Ayat ini memberikan klarifikasi mendasar mengenai asal-usul kebaikan
(ḥasanah) dan keburukan (sayyi'ah) yang menimpa
manusia, melanjutkan bantahan terhadap klaim orang munafik di ayat
sebelumnya (4:78).
🧐 Analisis
I'rāb (Gramatikal)
I. Bagian Pertama:
Asal Usul Kebaikan
Kata
|
I'rāb (Kedudukan
Gramatikal)
|
Keterangan/Status
|
مَا
(Mā)
|
Ism Syarṭ Jāzim
(Kata Syarat yang Menjazmkan)
|
Mubtada'
(Subjek) pada posisi raf'. Artinya: "apa pun yang."
|
أَصَابَكَ
(Aṣābaka)
|
Fi'l Māḍī
|
Fi'l Syarṭ
(Kata Kerja Syarat) pada posisi jazm (secara kedudukan).
Kāf (ك)
adalah Maf'ūl bih.
|
مِنْ
حَسَنَةٍ (Min ḥasanatin)
|
Min (Jārr
Zā'idah) dan Ḥasanatin
|
Ḥasanatin
adalah Tamyīz atau Badal dari Mā pada
posisi naṣb (secara kedudukan), tetapi majrūr
secara lafaz.
|
فَ
(Fa)
|
Fā' al-Jawāb
(Fā' Jawaban Syarat)
|
Mengikat Jawaban Syarat
karena berupa kalimat nominal.
|
مِنَ
اللَّهِ (Mina Allāhī)
|
Jārr wa Majrūr
|
Khabar dari
Mubtada' yang dihilangkan (hiya/faḍlun) atau
Khabar dari Mā (secara kedudukan). Berada pada
posisi raf' (secara kedudukan). Jawāb Syarṭ.
|
Hukum Syarat Ganda (Mā... Fa...): Ayat
ini menggunakan dua kalimat syarat-jawaban (مَا
أَصَابَكَ فَمِنَ اللَّهِ dan
وَمَا أَصَابَكَ
فَمِنْ نَفْسِكَ) untuk membedakan
asal-usul takdir (yang dijelaskan di ayat 78) dari usaha dan pilihan
manusia (kasab).
Asal Kebaikan: مَا
أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ.
Kebaikan (kesuksesan, petunjuk, anugerah) adalah murni karunia
(فَضْل)
dari Allah.
Asal Keburukan: وَمَا
أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ
نَفْسِكَ. Keburukan (kesulitan, musibah,
kesesatan) adalah akibat dari pilihan dan perbuatan (kasab)
manusia itu sendiri (dosa, kesalahan, kelalaian), meskipun ia
terjadi atas izin Allah (seperti ditegaskan di ayat 78: كُلٌّ
مِّنْ عِندِ اللَّهِ). Ini adalah
prinsip Tawḥīd al-Af'āl (Keesaan Perbuatan Allah) yang
disandingkan dengan Mas'ūliyyat al-Insān (Tanggung Jawab
Manusia).
Maf'ūl bih Ṡānī (Rasūlan):
رَسُولًا
(sebagai Rasul) adalah objek kedua dari Arsalnāka
(Kami utus engkau) yang menjelaskan fungsi utusan tersebut.
Kecukupan Saksi (Kafā bi Allāhi Šahīdan):
Penutup ayat menegaskan kembali bahwa Allah Maha Cukup sebagai Saksi
atas tugas kerasulan Nabi Muhammad ﷺ,
baik dalam menyampaikan risalah (bahwa semua dari Allah) maupun
dalam kebenaran hukum-hukum-Nya.